Sore ini memang begitu asing bagiku
Aku tau senja selalu indah untuk dinikmati
Namun aku merasa, langitpun ingin berteriak
Menyuarakan perasaan yang dipendam
Aku duduk penuh lamunan
Terlalu nyaman untuk saling mengutarakan pendapat
Lamunanku kali ini menang
Aku memilih untuk berpisah dengannya
Entah mengapa, senja dan lamunan kali ini bersekongkol
Tuhan tentunya mengizinkan, aku tahu
Hanya saja, kali ini aku ingin mengalahkan mereka
Aku tidak ingin hujan turun lebat sebagai ungkapan perasaan sang senja
Aku tidak ingin emosi memuncah sebagai ungkapan hati melawan lamunan
Aku berubah
Aku mengubah seluruhnya
Aku sengaja, memang
Aku membuktikan bahwa lamunanku ini salah
Bahwa hujan bukan menjawab perasaan sang senja
Aku yakin lamunanku tidak salah
Aku hanya tidak bisa menerima kenyataan
Kenyataan lamunanku ini menyakitkan hatiku
Lamunanku begitu jujur kepadaku
Lamunanku menuntutku untuk introspeksi diri
Aku sombong, mungkin
Aku yakin senja takut aku marah
Telah membohongi perasaanku
Namun, senja tau itu menyakitkan bagiku
Senja menutupinya, terlihat begitu murung
Tidak ingin menyakitiku
Maafkan aku, senja
Aku ingin memelukmu, lamunanku
Terima kasih sudah membuka peluhku
Yang tertutup oleh awan murung sang senja
Aku ingin marah kepadamu, senja soreku
Apakah aku begitu mudah untuk engkau bohongi?
Tuhan itu Maha Adil
Ketika hidup ini penuh warna bunga yang bersinar di halaman
Aku mengabaikanmu, lamunanku
Ketika hariku dihiasi oleh murungmu
Aku menghardikmu, senjaku
Aku terus ingin dipayungi oleh senyummu yang malu-malu, senjaku
Aku selalu berharap kehadiranmu selalu menghidupi sendiriku, lamunanku
Terima kasih, dengan penuh egoisku ini, kalian selalu mengerti aku
Salam,
Penyuka hujan
If you were happy with the wrong one, just think how happy you will be when the right one comes
Tuesday, 23 December 2014
Monday, 8 December 2014
Cemburu
Kehadiranmu menjadi lilin kecil di ruang hati yang gelap
Candamu menjadi riuh ombak di pantai yang tidak berpengunjung
Pelukmu menjadi pelindung dinginnya salju yang turun dari langit
Namun, ketika kamu menjauh
Lilin mulai meleleh
Ombak mulai kecil
Pelindung tidak menurunkan dingin ditubuhku
Semua menjadi redup
Katamu, sayang itu hanya untuk seorang
Sayang itu dipayungi rasa percaya
Seperti pohon yang melindungi sangkar burung
Seperti mawar yang berprajurit banyak duri
Apakah aku boleh cemburu?
Tentu sangkar burung tidak akan hancur seketika
Tentu prajurit mawar tidak akan melunak
Hanya saja, pohon ingin menunjukkan perlindungannya
Bahwa pohon tidak akan membuat burung-burung ini tidak bersiul kembali
Pohon tidak akan membuat burung ini tidak beristirahat untuk mengepakkan sayapnya esok hari
Hanya saja, mawar ingin menunjukkan keindahannya
Bahwa merah meronanya dapat menarik perhatian
Mawar bukan sembarang bunga
Mawar tidak bisa dipetik sembarang orang
Bahwa cemburu adalah tanda sayang
Salam, Wanita Berpipi Merah
Candamu menjadi riuh ombak di pantai yang tidak berpengunjung
Pelukmu menjadi pelindung dinginnya salju yang turun dari langit
Namun, ketika kamu menjauh
Lilin mulai meleleh
Ombak mulai kecil
Pelindung tidak menurunkan dingin ditubuhku
Semua menjadi redup
Katamu, sayang itu hanya untuk seorang
Sayang itu dipayungi rasa percaya
Seperti pohon yang melindungi sangkar burung
Seperti mawar yang berprajurit banyak duri
Apakah aku boleh cemburu?
Tentu sangkar burung tidak akan hancur seketika
Tentu prajurit mawar tidak akan melunak
Hanya saja, pohon ingin menunjukkan perlindungannya
Bahwa pohon tidak akan membuat burung-burung ini tidak bersiul kembali
Pohon tidak akan membuat burung ini tidak beristirahat untuk mengepakkan sayapnya esok hari
Hanya saja, mawar ingin menunjukkan keindahannya
Bahwa merah meronanya dapat menarik perhatian
Mawar bukan sembarang bunga
Mawar tidak bisa dipetik sembarang orang
Bahwa cemburu adalah tanda sayang
Salam, Wanita Berpipi Merah
Subscribe to:
Posts (Atom)