Kau pasti tidak memikirkan hal ini.
Aku tau, menjadi sepertiku itu pasti lelah, sungguh lelah. Membohongi diriku sendiri, tidak menyadari bahwa aku bukanlah pilihan utamamu. Bukan menjadi yang menguasai pagi-malammu. Bukan menjadi yang menetap di pikiranmu setiap saat. Bukan yang membuatmu gusar ketika ponselmu tak kunjung berdering. Bukan menjadi yang membuatmu menitikan cairan dari matamu ketika ada berita buruk datang.
Memang bukan.
Dan bodohnya, aku terus saja berusaha, mempertahankan sesuatu yang seharusnya aku tidak perlu pertahankan. Mempertahankan keegoisanku untuk terus merebut posisi milik yang lain. Berusaha menggantikan apa yang seharusnya dilakukan oleh yang lain. Melupakan bahwa Tuhan sudah mentakdirkan bahwa setiap orang sudah mempunyai porsinya masing-masing. Melupakan bahwa Tuhan sudah mentakdirkan bahwa menjadi manusia itu tidak boleh serakah. Bahwa sesungguhnya hidup itu memang sebuah pilihan.
Pilihan untuk tidak menjadi yang kedua.
Kenapa harus ada pilihan di hidup ini? Kenapa Tuhan tidak menakdirkan sesuatu yang langsung begitu saja kita terima? Kenapa pilihan itu tidak bisa kita ambil semua? Kenapa kita tidak bisa menjalani pilihan itu semuanya bersamaan? Kenapa?
Karena pilihan itu jalan menuju kedewasaan.
Karena Tuhan itu Maha Adil. Karena dewasa itu bukan dilihat dari berapa umurmu, tapi dari seberapa sering kamu menentukan pilihanmu, seberapa sering kamu memutuskan sebuah keputusan. Seberapa yakinkah kamu memilih nasibmu sendiri, menjadi sebuah pilihan kedua atau sebuah kewajiban yang utama.
Bukan tidak mungkin.
Beranjaklah ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Ke kehidupan dimana kamu harus pintar memilih. Pintar menjaga apa yang sudah menjadi pilihan dan takdirmu. Jagalah apa yang kau pilih menjadi sebuah kewajiban yang utama. Kita tidak pernah tau, apakah dia hanya sesaat, ataukah memang menjadi takdirmu. Karena pilihan itu mungkin salah, tapi takdir tidak pernah salah.
Karena semesta selalu mendukung.
Entah baik ataupun menjadi lebih buruk. Dan bukan tidak mungkin, setelah aku menjadi yang utama, aku akan mempunyai 'kawan' yang menduduki posisiku di hidupmu sebelum aku menjadi yang utama.