Pages

Saturday, 24 January 2015

Bukan untuk dipilih

Kenapa hidup itu harus memilih?
Kenapa mawar memilih untuk berduri?
Kenapa air memilih untuk selalu mengisi?
Kenapa api memilih untuk membakar?

Kenapa hidup itu harus memilih?
Ketika pohon memilih untuk setia berdiri
Ketika daun terpaksa untuk gugur
Ketika ranting memilih untuk bertahan

Kenapa hidup itu harus memilih?
Ketika lilin terpaksa untuk hidup
Ketika itu pula lilin tau bahwa hidupnya tidak segera berakhir
Ketika bulan terus berusaha bersinar
Ketika itu pula bahwa matahari akan segera menggantikannya

Kenapa hidup itu harus memilih?
Kenapa harus ada rangkaian pilihan?
Kenapa tidak ada yang satu di dunia?

Aku tidak pantas untuk dipilih
Ketika hilang, kamu tidak berpenggati
Ketika durinya hilang, mawar tidak terlindungi
Ketika daun gugur, ranting tidak beratap lagi

Kalau takdir dapat ditebak sebelum waktunya
Kamu tidak akan gelisah
Kamu tidak akan takut pilihanmu salah

Karena aku, bukan untuk dipilih
Karena aku, bukan satu helai daun yang meninggalkan ranting
Karena aku, bukanlah setitik duri kecil yang melindungi mawar

Tapi, aku adalah payung sang pohon
Peneduh hujan
Penyejuk hati
Penyambung hidup

Tapi, aku adalah sang prajurit perkasa
Pemimpin benteng
Pelindung raga
Penentang musuh


Masih mau memilih?

Tuesday, 23 December 2014

Jujur tetapi menyakitkan... atau? berbohong?

Sore ini memang begitu asing bagiku
Aku tau senja selalu indah untuk dinikmati
Namun aku merasa, langitpun ingin berteriak
Menyuarakan perasaan yang dipendam

Aku duduk penuh lamunan
Terlalu nyaman untuk saling mengutarakan pendapat
Lamunanku kali ini menang
Aku memilih untuk berpisah dengannya

Entah mengapa, senja dan lamunan kali ini bersekongkol
Tuhan tentunya mengizinkan, aku tahu
Hanya saja, kali ini aku ingin mengalahkan mereka
Aku tidak ingin hujan turun lebat sebagai ungkapan perasaan sang senja
Aku tidak ingin emosi memuncah sebagai ungkapan hati melawan lamunan

Aku berubah
Aku mengubah seluruhnya
Aku sengaja, memang
Aku membuktikan bahwa lamunanku ini salah
Bahwa hujan bukan menjawab perasaan sang senja

Aku yakin lamunanku tidak salah
Aku hanya tidak bisa menerima kenyataan
Kenyataan lamunanku ini menyakitkan hatiku
Lamunanku begitu jujur kepadaku
Lamunanku menuntutku untuk introspeksi diri
Aku sombong, mungkin

Aku yakin senja takut aku marah
Telah membohongi perasaanku
Namun, senja tau itu menyakitkan bagiku
Senja menutupinya, terlihat begitu murung
Tidak ingin menyakitiku
Maafkan aku, senja


Aku ingin memelukmu, lamunanku
Terima kasih sudah membuka peluhku
Yang tertutup oleh awan murung sang senja
Aku ingin marah kepadamu, senja soreku
Apakah aku begitu mudah untuk engkau bohongi?


Tuhan itu Maha Adil
Ketika hidup ini penuh warna bunga yang bersinar di halaman
Aku mengabaikanmu, lamunanku
Ketika hariku dihiasi oleh murungmu
Aku menghardikmu, senjaku


Aku terus ingin dipayungi oleh senyummu yang malu-malu, senjaku
Aku selalu berharap kehadiranmu selalu menghidupi sendiriku, lamunanku
Terima kasih, dengan penuh egoisku ini, kalian selalu mengerti aku


Salam,
Penyuka hujan









Monday, 8 December 2014

Cemburu

Kehadiranmu menjadi lilin kecil di ruang hati yang gelap
Candamu menjadi riuh ombak di pantai yang tidak berpengunjung
Pelukmu menjadi pelindung dinginnya salju yang turun dari langit

Namun, ketika kamu menjauh
Lilin mulai meleleh
Ombak mulai kecil
Pelindung tidak menurunkan dingin ditubuhku
Semua menjadi redup

Katamu, sayang itu hanya untuk seorang
Sayang itu dipayungi rasa percaya
Seperti pohon yang melindungi sangkar burung
Seperti mawar yang berprajurit banyak duri

Apakah aku boleh cemburu?
Tentu sangkar burung tidak akan hancur seketika
Tentu prajurit mawar tidak akan melunak

Hanya saja, pohon ingin menunjukkan perlindungannya
Bahwa pohon tidak akan membuat burung-burung ini tidak bersiul kembali
Pohon tidak akan membuat burung ini tidak beristirahat untuk mengepakkan sayapnya esok hari

Hanya saja, mawar ingin menunjukkan keindahannya
Bahwa merah meronanya dapat menarik perhatian
Mawar bukan sembarang bunga
Mawar tidak bisa dipetik sembarang orang
Bahwa cemburu adalah tanda sayang


Salam, Wanita Berpipi Merah

Thursday, 3 July 2014

Untuk kamu, hai wanita.

Kau, wanita pelarian lelakiku..

Terima kasih telah hadir di antara kami sebagai hiburan untuknya.
Terima kasih telah menemaninya selama aku tidak ada.
Terima kasih telah membuatnya bahagia sementara.
Terima kasih, karenamu, aku dan dia bisa memulai dari awal.
Maaf telah membuatnya meninggalkanmu, karena memang seharusnya begitu.
Kau tidak lebih dari sekedar pelariannya dariku.
Hati, sejauh apapun dia pergi, akan kembali pulang kepada pemiliknya meskipun terluka.

Kau, wanita pelarian lelakiku..

Aku tidak marah padamu ataupun kepada lelakiku.
Mungkin aku yang salah, sehingga dia bermain-main denganmu.
Terserah apa yang kau tulis di linimasa-mu, aku tidak peduli, lelakiku kembali. :)

Ku doakan apa yang terjadi kepadaku, tidak terjadi kepadamu.

Salam hangat, dariku.

Thursday, 6 February 2014

Setia

Kesetiaan itu... 
Dia bisa pergi tapi dia memilih tinggal
Dia bisa saja memilih orang lain tapi dia tetap memilihmu
Dia yang hatinya tetap selalu ada dan berdekatan,
walau tubuh berjauhan dan telah tidak ada.

If only

Kalau aku disampingmu,
aku layaknya bunga melati yang malu-malu untuk mekar cepat, karena tau cepat pula aku akan layu.

Kalau aku disampingmu,
aku layaknya perahu yang enggan menyerah cepat hanya karena ombak yang keras di tengah laut, karena aku tahu, ombak itu lawan tangguh yang harus dilalui.

Kalau aku disampingmu,
aku layaknya vas bunga keramik, menjadi pelindung sang permaisuri yang kalau sang pemiliknya mencari, iya masih tetap indah seperti saat pertama.

Kalau aku disampingmu,
aku layaknya seorang hamba, penuh dosa, tapi seumur hidupku ditemani oleh bidadari surga-Nya.

Karena kamu,
jembatan hati, yang tidak akan pernah roboh, meskipun beban yang kau tangani, melebihi yang kamu pikirkan.

Karena Tuhan,
tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. apalagi seorang hamba sepertimu.

Wednesday, 5 February 2014

Kata aku

Kata aku, yang namanya cinta itu abadi. Kata aku, yang namanya sayang itu pilihan. Kata aku, yang namanya suka itu tidak bisa diprediksi.

Kata aku, suka itu selalu muncul yang paling pertama, tapi sifatnya amat sangat sementara. Kalau suka belum tentu sayang, tapi pasti tak segan memujinya. Kalau suka pasti hidupmu berbunga-bunga, tapi bunga itu cepat rontok dan tidak lama akan layu. Butuh air untuk membuatnya tetap hidup, yaitu sayang.

Kata aku, sayang itu muncul sebelum rasa cinta itu ada. Sayang itu sifatnya sangat unik, karena rasa sayang itu bukan hanya untuk seorang pasangan hidup, tapi juga kepada keluarga, teman, sahabat, kerabat, dan lain-lain. Sayang itu tumbuh dengan rasa untuk mulai saling memikirkan, tapi tidak mudah menumbuhkan rasa saling percaya. Mungkin bungamu itu tidak layu, namun tidak pula mekar. Karena butuh dipupuk oleh yang namanya rasa cinta.

Kata aku, cinta itu adalah yang utama. Yang tertinggi, bukan yang pertama. Cinta itu tumbuh dengan rasa percaya, bukan rasa saling curiga. Cinta itu sifatnya abadi, karena cinta bukanlah sesuatu yang mudah dipermainkan. Karena cinta tidak mungkin muncul kalau belum ada yg namanya sayang. Cinta itu tumbuh dengan sempurna. Layaknya bunga mawar yang kamu siram setiap harinya dengan air yang cukup. Layaknya mawar merah yang kelopak bunganya kau pelihara agar tidak rontok sebelum ia mekar. Layaknya mawar merah yang kamu pupuk dengan sepenuh hati, karena kamu percaya, suatu saat bunga itu akan mekar dengan sempurna.