Sore ini memang begitu asing bagiku
Aku tau senja selalu indah untuk dinikmati
Namun aku merasa, langitpun ingin berteriak
Menyuarakan perasaan yang dipendam
Aku duduk penuh lamunan
Terlalu nyaman untuk saling mengutarakan pendapat
Lamunanku kali ini menang
Aku memilih untuk berpisah dengannya
Entah mengapa, senja dan lamunan kali ini bersekongkol
Tuhan tentunya mengizinkan, aku tahu
Hanya saja, kali ini aku ingin mengalahkan mereka
Aku tidak ingin hujan turun lebat sebagai ungkapan perasaan sang senja
Aku tidak ingin emosi memuncah sebagai ungkapan hati melawan lamunan
Aku berubah
Aku mengubah seluruhnya
Aku sengaja, memang
Aku membuktikan bahwa lamunanku ini salah
Bahwa hujan bukan menjawab perasaan sang senja
Aku yakin lamunanku tidak salah
Aku hanya tidak bisa menerima kenyataan
Kenyataan lamunanku ini menyakitkan hatiku
Lamunanku begitu jujur kepadaku
Lamunanku menuntutku untuk introspeksi diri
Aku sombong, mungkin
Aku yakin senja takut aku marah
Telah membohongi perasaanku
Namun, senja tau itu menyakitkan bagiku
Senja menutupinya, terlihat begitu murung
Tidak ingin menyakitiku
Maafkan aku, senja
Aku ingin memelukmu, lamunanku
Terima kasih sudah membuka peluhku
Yang tertutup oleh awan murung sang senja
Aku ingin marah kepadamu, senja soreku
Apakah aku begitu mudah untuk engkau bohongi?
Tuhan itu Maha Adil
Ketika hidup ini penuh warna bunga yang bersinar di halaman
Aku mengabaikanmu, lamunanku
Ketika hariku dihiasi oleh murungmu
Aku menghardikmu, senjaku
Aku terus ingin dipayungi oleh senyummu yang malu-malu, senjaku
Aku selalu berharap kehadiranmu selalu menghidupi sendiriku, lamunanku
Terima kasih, dengan penuh egoisku ini, kalian selalu mengerti aku
Salam,
Penyuka hujan
Berpisah dengan lamunan? Untuk kehidupan yang lebih bermakna atau hanya sekedar emosi sesaat?
ReplyDeleteemosi sesaat. terkadang mendominasi pintu hati untuk terbuka dan melihat yang lebih indah
Delete